Adab Menagih Hutang Menurut Islam

Dalam agama Islam praktik hutang piutang adalah mubah atau boleh. Bahkan aturan menagih hutang pun ditetapkan dalam Quran dan hadis sahih. Lazimnya saat berlangsung akad hutang piutang maka sudah ditentukan pula batas akhir penerima hutang harus melunasi. Menagih hutang menurut Islam bila sudah jatuh tempo menjadi hak pemberi hutang.

Membayar hutang hukumnya wajib. Dengan begitu orang yang meminjam tersebut diharuskan melunasi hutang yang diterimanya. Jika pemberi hutang tak menagih, tetap orang yang meminjam diharuskan membayar. Karena itu dalam hutang piutang sangat disarankan untuk menuliskannya sehingga jelas perjanjiannya, berapa jumlah yang dipinjam, dan kapan harus dikembalikan.

Memberikan Kelonggaran Waktu

Menagih hutang dibenarkan dalam Islam saat tenggat waktu terlampaui dan orang yang berhutang pun dipandang mampu membayarnya. Namun menagih hutang menurut Islam dilarang bilamana orang yang meminjam kondisinya memang belum sanggup untuk melunasi. Pemberi hutang melihat sendiri bila orang yang meminjam belum punya cukup harta untuk melunasi hutang. Jika orang yang meminjam betul-betul belum sanggup, pemberi hutang sebaiknya memberikan waktu lagi sampai keadaan orang yang meminjam betul-betul berkelapangan.

Maka kamu bisa gunakan jasa penagihan hutang dari pengacaraindonesia.com

Memberikan kelonggaran waktu untuk orang yang meminjam adalah ketentuan dari Allah sebagaimana tercantum dalam surah Al Baqarah ayat 280 : “Dan apabila (orang yang berhutang itu) dalam kesusahan, untuk itu beri tenggang waktu hingga ia memperoleh kelonggaran. Dan apabila kamu menyedekahkan (sebagian atau seluruh hutang) maka itu lebih baik bagimu, apabila kamu mengetahui”. Kemudian diperkuat juga dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah, Nabi SAW bersabda :”Siapa yang memberikan penundaan orang yang kesusahan, tentu ia akan menerima pahala sedekah tiap harinya. Dan siapa yang memberikan penundaan pembayaran kepadanya sesudah jatuh tempo tentu ia akan memperoleh pahala sedekah sebagaimana hutang yang diberikan tiap harinya”.

Apabila pemberi hutang belum merasa pasti kemampuan orang yang meminjam, untuk itu pemberi pinjaman bisa menunggu beberapa saat sampai betul-betul jelas jika ia memang belum mampu. Hal tersebut sangat ditekankan dalam Islam sehingga tak akan ada yang dirugikan dari kedua belah pihak. Penerima hutang bila memang belum mampu pun bisa mendatangkan dua saksi jika perkataannya memang betul. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, dan Turmudzi, Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa yang memberi waktu tunda pembayaran untuk orang yang kesulitan membayar hutang atau membebaskannya, tentu Allah akan menaunginya dalam naungan (Arsy)-Nya di hari Kiamat dimana tak akan ada naungan kecuali naungan (Arsy)-Nya.

Menagih dengan Sopan

Sebagaimana uraian di atas, menagih hutang adalah hak pemberi pinjaman. Yang penting untuk diperhatikan, ketika menagih harus dilakukan secara baik dan sopan. Menagih hutang menuut Islam, tak diperbolehkan menggunakan perkataan kasar, memaksa, atau bahkan memberikan ancaman. Dilarang pula menuntut pelunasan lebih besar dari hutangnya sebab itu adalah riba.

Memperlihatkan tindakan tak sopan yang menyalahi aturan agama Islam saat menagih hutang malah akan mengakibatkan hubungan dengan penerima pinjaman menjadi renggang. Orang yang meminjam pun mungkin akan menjadi jengkel atau malah bersedih hati. Menagih hutang dapat diambil kapan saja, sepanjang orang yang meminjam sudah sanggup melunasi hutangnya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Nabi SAW bersabda :” “Semoga Allah merahmati seseorang yang bersikap mudah ketika menjual, ketika membeli, dan kesempatan menagih haknya (hutangnya)”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *